Hisablah Diri Kalian
Diriwayatkan bahwa dalam salah satu khutbahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah berpesan: "Hisablah diri kalian sebelum tiba waktu penghisaban kalian. Sungguh, tidaklah suatu kaum itu meninggalkan jihad fi sabilillah, kecuali Allah akan menimpakan kefakiran pada mereka...
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya
Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan...
Fardhu Wudhu
Dalam kitab Safinah al-Najah disebutkan bahwa fardhu wudhu ada enam, padahal di dalam al-Qur'an hanya dijelaskan empat saja. Apakah dalil penetapan tersebut? Mungkin pertanyaan seperti itu juga pernah terlintas di hati Anda. Berikut adalah penjelasannya.Ayat al-Qur'an yang menjelaskan tentang...
Mengikuti Ulama
Kata 'ulama' adalah bentuk jamak. Mufradnya 'alim', artinya orang pandai. Ulama mestinya berarti orang-orang pandai, dan semua orang pandai. Artinya, setiap pakar di bidangnya dapat disebut ulama. Akan tetapi, dalam bahasa Indonesia, kata 'ulama' memiliki arti mufrad (tunggal) dan mempunyai arti...
Melafalkan Niat Sebelum Shalat
Sebagian orang mempertanyakan apa hukum melafalkan niat (membaca ushalli) ketika hendak melaksanakan shalat? Perlu diketahui bahwa niat merupakan inti dari setiap pekerjaan. Sebab, baik tidaknya pekerjaan itu tergantung pada niatnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad....
Rabu, 06 Januari 2016
Wahabi Anti Tabarruk Berarti Khawarij
MUI Papua Usir Ustadz Wahabi Radikal
Selasa, 05 Januari 2016
Melafalkan Niat Sebelum Shalat
Demikian juga dalam shalat. Niat adalah rukun yang pertama. Akan tetapi, karena niat tempatnya di dalam hati maka disunnahkan mengucapkan niat tersebut dengan lisan untuk membantu gerakan hati (niat). Imam Ramli dalam kitabnya Nihayah al-Muhtaj mengatakan:
"Disunnahkan mengucapkan apa yang diniati (kalimat ushalli) sebelum takbir, agar lisan bisa membantu hati, sehingga bisa terhindar dari was-was (keragu-raguan hati akibat bisikan setan). Dan agar bisa keluar dari pendapat ulama yang mewajibkannya." (Nihayah al-Muhtaj, juz I, hal. 437)
Hal ini karena di dalam beberapa kesempatan, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah melafalkan niat. Misalnya dalam ibadah haji. Dalam sebuah hadits dijelaskan:
"Dari sahabat Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengucapkan, labbaika aku sengaja mengerjakan umrah dan haji." (Shahih Muslim, 2168)
Konteks hadits di atas berbicara dalam persoalan haji. Akan tetapi shalat bisa diqiyaskan dengan haji. Kalau ketika melaksanakan ibadah haji sunnah melafalkan niat, maka dalam shalat juga demikian, dianjurkan mengucapkan ushalli.
Demikian pula dalam ibadah-ibadah yang lain, seperti wudhu, puasa dan zakat. Sunnah mengucapkan nawaitu ketika hendak melaksanakan perbuatan tersebut. Namun seandainya tidak berkenan melafalkan niat, juga tidak apa-apa. Karena melafalkan niat itu hanya merupakan perbuatan sunnah, buka merupakan amalan fardhu.
Minggu, 03 Januari 2016
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat
Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).
Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.
Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.
Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.
Pelayan Umat
Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.
“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.
Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.
Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.
Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya.
Sumber: nu.or.id
Mengikuti Ulama
Fardhu Wudhu
Ayat al-Qur'an yang menjelaskan tentang wudhu adalah:
Hisablah Diri Kalian
Menghisab diri sendiri artinya melakukan penimbangan atas amal kebaikan yang mendatangkan pahala dan amal keburukan yang mendatangkan dosa. Perhatikanlah, mana di antara keduanya yang lebih banyak. Yang lebih baik adalah selalu menduga bahwa keburukan kita jauh lebih banyak daripada kebaikan. Sikap ini akan membuat kita senantiasa terdorong untuk melakukan amal kebajikan.
Sabtu, 02 Januari 2016
Cara Menghapus 'Diberdayakan oleh Blogger'
Tulisan Powered by Blogger tersebut, yang tentunya hanya ada di blog platform blogspot, dikenal dengan nama "Attribution Gadget", yaitu gadget yang biasanya ada di footer atau di sidebar blog dengan tulisan "Powered By Blogger" (Inggris) atau "Diberdayakan oleh Blogger" (Indonesia).
Mau menghilangkan Powered by Blogger? Caranya gampang banget! Ada tiga cara. Pilih salah satu.
2. Klik "Edit HTML"
3. Temukan (CTRL+F) kode ]]></b:skin>
4. Copy dan Paste kode berikut ini di atas kode ]]></b:skin>
#Attribution1 {height:0px;visibility:hidden;display:none}
5. Save Template!
2. Ubah tulisan "true" jadi "false": <b:widget id='Attribution1' locked='false' title='' type='Attribution'>
3. Save Template
4. Klik Layout/Tata Letak
5. Hapus (Remove) Widget "Atribusi Powered by Blogger".
1. Template > Edit HTML
2. Cari "attribution" dan HAPUS semua kode yang ada kata "attribution" di dalamnya, yang diawali dengan <b:widget... dan diakhir dengan kode </b:widget>
3. Save Template!
Mudah banget 'kan Cara Menghapus tulisan "Powered by Blogger" atau "Diberdayakan oleh Blogger"? Good luck and Happy Blogging!!!







