Diberdayakan oleh Blogger.

Hisablah Diri Kalian

Diriwayatkan bahwa dalam salah satu khutbahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah berpesan: "Hisablah diri kalian sebelum tiba waktu penghisaban kalian. Sungguh, tidaklah suatu kaum itu meninggalkan jihad fi sabilillah, kecuali Allah akan menimpakan kefakiran pada mereka...

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan...

Fardhu Wudhu

Dalam kitab Safinah al-Najah disebutkan bahwa fardhu wudhu ada enam, padahal di dalam al-Qur'an hanya dijelaskan empat saja. Apakah dalil penetapan tersebut? Mungkin pertanyaan seperti itu juga pernah terlintas di hati Anda. Berikut adalah penjelasannya.Ayat al-Qur'an yang menjelaskan tentang...

Mengikuti Ulama

Kata 'ulama' adalah bentuk jamak. Mufradnya 'alim', artinya orang pandai. Ulama mestinya berarti orang-orang pandai, dan semua orang pandai. Artinya, setiap pakar di bidangnya dapat disebut ulama. Akan tetapi, dalam bahasa Indonesia, kata 'ulama' memiliki arti mufrad (tunggal) dan mempunyai arti...

Melafalkan Niat Sebelum Shalat

Sebagian orang mempertanyakan apa hukum melafalkan niat (membaca ushalli) ketika hendak melaksanakan shalat? Perlu diketahui bahwa niat merupakan inti dari setiap pekerjaan. Sebab, baik tidaknya pekerjaan itu tergantung pada niatnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad....

Rabu, 06 Januari 2016

Wahabi Anti Tabarruk Berarti Khawarij

Bila ada orang yang menyentuh mimbar, menciumi mimbar, mengelus kuburan dan menciumi kuburan, untuk mendapat berkah, mungkin saat ini akan dianggap syirik orang sebagian orang yang kurang memahami Islam dan sebagian orang yang terpengaruh wahabi, atau wahabi.

Tetapi tidak dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau justru membolehkan cium-cium kuburan dan mengelus-ngelusnya. Sebagaimana diterangkan dalam kitab "Al-' Ilal wa Ma' rifatir-Rijal" 2/429: nomer 3243; cetakan Maktab al Islami:

سألته عن الرجل يمس منبر النبي صلى الله عليه وسلم ويتبرك بمسه ويقبله ويفعل بالقبر مثل ذلك أو نحو هذا يريد بذلك التقرب إلى الله عز وجل فقال لا بأس بذلك

Saya bertanya kepadanya (Ahmad bin Hanbal) tentang orang yang menyentuh mimbar Nabi Saw, dan mencari berkah dengan menyentuh dan menciumnya, dan melakukan hal yang sama ke kuburan beliau, atau hal seperti itu, dgn tujuan mendekatkan diri dan mencari berkah dari Allah, ia (Ahmad) mengatakan: "Tidak apa-apa dengan hal itu".

Imam Adz-Dzahabi membenarkan pendapat Imam Ahmad tersebut. Bahkan menyatakan secara jelas bahwa yang mengingkarinya adalah Khawarij dan Ahlu Bid'ah. Imam ad-Dzahabi berkata :

قال عبد الله بن أحمد : رأيت أبي يأخذ شعرة من شعر النبي ، صلى الله عليه وسلم ، فيضعها على فيه يقبلها . وأحسب أني رأيته يضعها على عينه ، ويغمسها في الماء ويشربه يستشفي به . ورأيته أخذ قصعة النبي ، صلى الله عليه وسلم فغسلها في حب الماء ، ثم شرب فيها ورأيته يشرب من ماء زمزم يستشفي به ، ويمسح به يديه ووجهه . قلت : أين المتنطع المنكر على أحمد ، وقد ثبت أن عبد الله سأل أباه عمن يلمس رمانة منبر النبي ، صلى الله عليه وسلم ، ويمس الحجرة النبوية ، فقال : لا أرى بذلك بأسا . أعاذنا الله وإياكم من رأي الخوارج ومن البدع

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata :  "Aku telah melihat ayahku mengambil sehelai rambut Nabi Saw kemudian meletakkannya dimulutnya dan menciuminya. Aku juga melihatnya meletakkan rambut itu di tengah-tengah kedua matanya kemudian beliau mencelupkannya ke dalam air dan meminum airnya untuk dijadikan obat dengannya. Aku juga pernah melihat ayahku mengambil wadah berisi rambut Nabi Saw lalu ayahku mencucinya di dalam kantong air kemudian meminum dengannya. Aku juga melihat ayahku minum air zamzam berharap sembuh dengannya dan mengusapkannya ke kedua tangan dan wajahnya. Aku (imam Adz-Dzahabi) katakan “Adakah orang berlebihan yang memungkiri imam Ahmad ? Sungguh telah tetap bahwasanya Abdullah telah bertanya pada ayahnya (Imam Ahmad) tentang orang yang menyentuh pegangan mimbar Nabi Saw dan juga menyentuh kamar Nabi Saw, maka ayahku menjawab “ yang demikian itu tidak apa-apa “, semoga kami dan kalian dilindungi Allah dari RO’YU (pemahaman ) KHAWARIJ dan dari pemahaman Ahli BI’DAH  “.(Siyar A’lam an-Nubala : 11/212 CET Muasasah ar Risalah Bairut tahqiq Shalih as Samr)

 Perhatikan dengan jelas penjelaskan diatas, sangat terang seterang matahari di siang hari. Oleh karena itu, pengikut wahabi yang anti tabarruk sebenarnya khawarij. Mereka beragama dengan cara khawarij. Umumnya dikantor-kantor / perusahaan mudah ditemui orang-orang berwatak khawarij ini karena mereka awalnya memang dangkal ilmu agamanya kemudian terpengaruh pemikiran wahabi. 


MUI Papua Usir Ustadz Wahabi Radikal

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua akhirnya dengan tegas meminta salah satu tokoh agama Islam dan pengikutnya untuk meninggalkan Papua. Keputusan ini diambil karena kerawanan penyebaran ajaran Islam yang radikal yang bisa menjurus pada konflik antar umat beragama di Papua. Sosok yang 'diusir' itu adalah Ustadz Ja’far Umar Thalib dan para santrinya.

Ja’far Umar Thalib sendiri merupakan tokoh Islam garis keras pendiri Laskar Jihad atau sebuah organisasi Islam miilitan di Indonesia dan pernah berguru kepada ulama wahabi salafi radikal Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i di Dammaj Yaman. Ustadz kelahiran Malang, yang pada tahun 1987 pernah bergabung dengan "Mujahidin" di Afghanistan saat berperang melawan Uni Soviet ini telah berada di Jayapura sejak 4 Desember lalu dan langsung bermukim di Koya Barat. Kedatangan pria pemilik pesantren Ihya As Sunnah di Sleman Jogjakarta ini dikatakan ingin berdakwah, namun dari rekam jejak yang cukup meresahkan dan dianggap bisa membuka potensi konflik antar umat beragama akhirnya MUI sepakat untuk meminta Ustadz Ja’far tidak melanjutkan niatnya di Papua dan kembali ke Jawa. 
 
 
“Kami melakukan rapat dengan mengundang Ustadz Ja’far Umar Thalib terkait situasi yang berkembang dan membingungkan serta bisa mempengaruhi toleransi umat beragama. MUI Papua berdialog dengan beliau, sebab berita selama ini informasinya hanya katanya-katanya dan alhamdulillah beliau respons dan beliau dengan santrinya juga hadir pada pertemuan tadi,” kata Ketua MUI Papua, Ustadz Payage, seperti dikutip dari Cendrawasih Pos, Senin (28/12/2015).
 
 
Kata Payage, dari pertemuan tersebut MUI menerangkan soal situasi Islam di Papua dan toleransi umat Islam dengan umat lain serta perkembangan dan cara dakwah yang harus dilakukan di Papua.
 
 
Cara dakwah selama ini adalah dengan penuh kelembutan, penuh dengan akhlak dan bilhal. Penjelasan ini lanjut Payage diterima namun Ustadz Ja’far juga menerangkan bahwa niatnya ke Papua adalah untuk berdakwah, menyampaikan ayat Al Quran dan Hadist, tidak lebih itu. Hanya saja pertemuan ini juga memunculkan banyak masukan dari Ormas Islam yang mereka tahu persis apa saja yang dilakukan Ustadz Ja’far selama di Papua sehingga disimpulkan bahwa Ja’far dan santrinya harus meninggalkan Papua. 
 
 
“Itu keputusan kami. Kami  melihat cara ustaz Jafar dalam berdakwah tidak relevan dengan kondisi di Papua. Di sini masyarakatnya majemuk dan tidak bisa saling menyalahkan apalagi ada juga yang dalam satu keluarga yang tidak seiman. Metode dakwah yang beliau terapkan sementara ini belum relevan tapi kalau di Jawa mungkin tak masalah,” tegas Payage. 
 
 
Namun MUI juga menampik jika kedatangan ustadz yang juga pernah belajar banyak di Yaman ini tak ada kaitannya dengan insiden Tolikara saat Idul Fitri lalu tetapi hanya melihat umat Islam dan berdakwah serta membangun pesantren.
 
 
Dari keputusan tersebut, Ja’far bersedia asal ada surat resmi dari pemerintah Papua sebab beliau masuk dengan resmi dan merupakan warga negara Indonesia.  
 
 
“Dalam waktu dekat kami akan meminta pemerintah untuk mengeluarkan surat agar yang bersangkutan meninggalkan Papua,” imbuh Payage. (ade/nat/adk/jpnn)

Selasa, 05 Januari 2016

Melafalkan Niat Sebelum Shalat

Sebagian orang mempertanyakan apa hukum melafalkan niat (membaca ushalli) ketika hendak melaksanakan shalat?

Perlu diketahui bahwa niat merupakan inti dari setiap pekerjaan. Sebab, baik tidaknya pekerjaan itu tergantung pada niatnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:


إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّات، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى. صحيح البخاري، رقم ١

"Segala sesuatu tergantung niatnya. Dan setiap perkara tergantung pada apa yang diniatkan." (Shahih al-Bukhari, 1)

Demikian juga dalam shalat. Niat adalah rukun yang pertama. Akan tetapi, karena niat tempatnya di dalam hati maka disunnahkan mengucapkan niat tersebut dengan lisan untuk membantu gerakan hati (niat). Imam Ramli dalam kitabnya Nihayah al-Muhtaj mengatakan:



وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالْمَنْوِيِّ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الْوَسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ. نهاية المحتاج، ج ١، ص ٤٣٧
 

 "Disunnahkan mengucapkan apa yang diniati (kalimat ushalli) sebelum takbir, agar lisan bisa membantu hati, sehingga bisa terhindar dari was-was (keragu-raguan hati akibat bisikan setan). Dan agar bisa keluar dari pendapat ulama yang mewajibkannya." (Nihayah al-Muhtaj, juz I, hal. 437)

Hal ini karena di dalam beberapa kesempatan, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah melafalkan niat. Misalnya dalam ibadah haji. Dalam sebuah hadits dijelaskan:
 

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا. صحيح مسلم، رقم ٢١٦٨


"Dari sahabat Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengucapkan, labbaika aku sengaja mengerjakan umrah dan haji." (Shahih Muslim, 2168)

Konteks hadits di atas berbicara dalam persoalan haji. Akan tetapi shalat bisa diqiyaskan dengan haji. Kalau ketika melaksanakan ibadah haji sunnah melafalkan niat, maka dalam shalat juga demikian, dianjurkan mengucapkan ushalli.

Demikian pula dalam ibadah-ibadah yang lain, seperti wudhu, puasa dan zakat. Sunnah mengucapkan nawaitu ketika hendak melaksanakan perbuatan tersebut. Namun seandainya tidak berkenan melafalkan niat, juga tidak apa-apa. Karena melafalkan niat itu hanya merupakan perbuatan sunnah, buka merupakan amalan fardhu. 

Minggu, 03 Januari 2016

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya.

Sumber: nu.or.id

Mengikuti Ulama

Kata 'ulama' adalah bentuk jamak. Mufradnya 'alim', artinya orang pandai. Ulama mestinya berarti orang-orang pandai, dan semua orang pandai. Artinya, setiap pakar di bidangnya dapat disebut ulama. Akan tetapi, dalam bahasa Indonesia, kata 'ulama' memiliki arti mufrad (tunggal) dan mempunyai arti khas, yaitu 'orang pandai di bidang agama'.

Dalam hal ini, ada pesan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada kaum muslimin yang hidup di kemudian hari, agar jangan meninggalkan ulama. Justru ikutilah ulama supaya mendapatkan ajaran agama yang benar.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

اِتَّبِعُوا الْعُلَمَاءَ فَإِنَّهُمْ سُرُجُ الدُّنْيَا وَمَصَابِيْحُ اْلآخِرَةِ. رواه الديلمى

"Ikutilah ulama karena mereka itu bagaikan lampu dunia dan lentera akhirat." (HR ad-Dailami)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

الْعُلَمَاءُ قَادَةٌ وَالْمُتَّقُوْنَ سَادَةٌ وَمُجَالَسَتُهُمْ زِيَادَةٌ. رواه ابن النجار
 
"Ulama itu panutan, orang-orang bertakwa itu terhormat, dan bergaul dengan mereka bisa menambah amal." (HR Ibnu Najjar)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

الْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ. رواه القضائي وابن عساكر

"Ulama itu orang-orang kepercayaan Allah di antara hamba-hamba-Nya." (HR al-Qadha'i dan Ibnu Asakir)

Fardhu Wudhu

Dalam kitab Safinah al-Najah disebutkan bahwa fardhu wudhu ada enam, padahal di dalam al-Qur'an hanya dijelaskan empat saja. Apakah dalil penetapan tersebut?

Mungkin pertanyaan seperti itu juga pernah terlintas di hati Anda. Berikut adalah penjelasannya.


Ayat al-Qur'an yang menjelaskan tentang wudhu adalah:


يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ. المائدة: ٦

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah dan kedua tangan sampai siku kalian, usaplah kepala kalian dan basuhlah kedua kaki sampai mata kaki kalian." (QS. al-Maidah: 6)

Dalam ayat ini, dengan rinci al-Qur'an menjelaskan fardhu-fardhu wudhu, yaitu membasuh muka, membasuh tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala dan membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Lalu, para fuqaha menambahkan niat dan tertib sebagai fardhu wudhu.

Tentang niat, para ulama berpedoman pada hadits Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:


عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. صحيح البخاري، رقم ٥٢

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu bergantung pada niatnya." (Shahih al-Bukhari, 52)

Sedangkan tertib dijadikan rukun wudhu yang keenam, karena ayat yang menyebutkan tentang wudhu disebutkan secara urut. Demikian pula Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika berwudhu selalu melakukannya secara tertib, yaitu memulainya dengan membasuh muka, kedua tangan, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki. Sebagaiman yang dijelaskan di dalam kitab Fiqh Manhaji:

"Kalangan Syafi'iyyah berhujjah dengan berbagai hadits shahih yang diriwayatkan dari berbagai kelompok sahabat tentang cara Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berwudhu. Semuanya mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berwudhu secara berurutan (tertib). Padahal jumlah mereka banyak, tempat mereka melihat Nabi berwudhu berbeda-beda, mereka sering berselisih pendapat tentang cara Nabi berwudhu, apakah satu, dua ataukah tiga kali dan sebagainya. Akan tetapi tidak terbukti dengan aneka macam perbedaan itu cara Nabi berwudhu dengan tidak tertib. Pekerjaan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tersebut merupakan penjelasan bagaimana wudhu yang diperintahkan itu. Andai kata meninggalkan tertib itu diperbolehkan, niscaya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam akan meninggalkannya pada satu waktu untuk menjelaskan kebolehannya, sebagaimana beliau pernah meninggalkan mengulang-ulang (basuhan dan usapan) pada waktu-waktu tertentu." (Al-Fiqh al-Manhaji, Juz I, hal. 56)

Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

إِبْدَؤُوْا بِمَا بَدَأَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ. مسند احمد، رقم ١٤٧٠٧

"Hendaklah kalian memulai (pekerjaan) sesuai dengan apa yang telah dimulai oleh Allah 'Azza wa Jalla." (Musnad Ahmad, 14707)

Dari sini menjadi jelas bahwa fardhu wudhu ada enam. Empat fardhu dijelaskan dalam al-Qur'an, yaitu membasuh muka, kedua tangan, mengusap kepala, dan membasuh kaki. Sedangkan dua fardhu yang lain, yakni niat dan tertib ditegaskan dalam hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Hisablah Diri Kalian

Diriwayatkan bahwa dalam salah satu khutbahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah berpesan:

"Hisablah diri kalian sebelum tiba waktu penghisaban kalian. Sungguh, tidaklah suatu kaum itu meninggalkan jihad fi sabilillah, kecuali Allah akan menimpakan kefakiran pada mereka. Dan, tidaklah perbuatan zina itu merebak dalam suatu kaum, kecuali Allah akan menimpakan siksa-Nya pada mereka." (Kanzul 'Ummal, no. 14114)

Hikmah:

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memberikan nasihat kepada kita agar sesegera mungkin menghisab diri sendiri sebelum tiba saat penghisaban yang akan dilakukan oleh Allah kepada kita.

Menghisab diri sendiri artinya melakukan penimbangan atas amal kebaikan yang mendatangkan pahala dan amal keburukan yang mendatangkan dosa. Perhatikanlah, mana di antara keduanya yang lebih banyak. Yang lebih baik adalah selalu menduga bahwa keburukan kita jauh lebih banyak daripada kebaikan. Sikap ini akan membuat kita senantiasa terdorong untuk melakukan amal kebajikan.

Sabtu, 02 Januari 2016

Cara Menghapus 'Diberdayakan oleh Blogger'

Cara menghilangkan atau menghapus tulisan "Diberdayakan oleh Blogger", "Powered by Blogger", atau Atribusi Blogger sangat mudah dan dibolehkan oleh sang pemilik blogger/blogspot, Google.

Tulisan Powered by Blogger tersebut, yang tentunya hanya ada di blog platform blogspot, dikenal dengan nama "Attribution Gadget", yaitu gadget yang biasanya ada di footer atau di sidebar blog dengan tulisan "Powered By Blogger" (Inggris) atau "Diberdayakan oleh Blogger" (Indonesia).

Mau menghilangkan Powered by Blogger? Caranya gampang banget! Ada tiga cara. Pilih salah satu.

Cara Pertama Menghapus 'Diberdayakan oleh Blogger'

1. Klik "Template"
2. Klik "Edit HTML"
3. Temukan (CTRL+F) kode ]]></b:skin>
4. Copy dan Paste kode berikut ini di atas kode ]]></b:skin>

#Attribution1 {height:0px;visibility:hidden;display:none}

5. Save Template!
 
Cara Kedua Menghapus 'Diberdayakan oleh Blogger'

1. Cari kode <b:widget id='Attribution1' locked='true' title='' type='Attribution'>
2. Ubah tulisan "true" jadi "false": <b:widget id='Attribution1' locked='false' title='' type='Attribution'>
3. Save Template
4. Klik Layout/Tata Letak
5. Hapus (Remove) Widget "Atribusi Powered by Blogger".

Cara Ketiga Menghapus 'Diberdayakan oleh Blogger'

Ini cara yang biasa kami lakukan dan fine-fine saja sejauh ini. Cara ketiga ini sekaligus sedikit mengurangi ukuran file template kita.

1. Template > Edit HTML
2. Cari "attribution" dan HAPUS semua kode yang ada kata "attribution" di dalamnya, yang diawali dengan <b:widget... dan diakhir dengan kode </b:widget>
3. Save Template!

Mudah banget 'kan Cara Menghapus tulisan "Powered by Blogger" atau "Diberdayakan oleh Blogger"? Good luck and Happy Blogging!!!